Qurban dalam makna yang lain


Suasana tenang dan bersahaja memenuhi sebuah ruangan 105 di Pasca Sarjana sebuah kampus Islam di Jakarta, seorang profesor pengampu mata kuliah bahasa Arab sedang menerangkan tentang masalah qurban. Dengan suara lembut khasnya beliau berkata,” alangkah bijaksanannya bila qurban itu dilaksanakan dalam bentuk uang bukan dalam bentuk penyembelihan hewan, karena uang memiliki manfaat lebih luas dibanding hanya sekedar makan-makan daging kambing berjamaah yang manfaatnya justru hanya bersifat eksidental. Bahkan jika benar daging kambing bisa menyebabkan darah tinggi, alangkah kejamnya Islam yang merekomendasikan pengikutnya untuk mati secara pelan-pelan. Namun jika qurban dibayarkan dengan uang, maka problematika umat dan bangsa ini akan dapat teratasi. Bayangkan jika pada saat idul adha terdapat 30 juta penduduk indonesia yang berqurban, dikalikan harga satu ekor kambing yaitu 1,5 juta maka akan didapati angka 45 triliyun,dengan uang sebesar itu uamat Islam bisa membangun sekolah dan rumah sakit gratis bagi orang yang tidak mampu…..Begitulah uarain Professor lulusan Sudan itu.

Sontak seorang Mahasiswa mengacungkan jarinya seraya bertanya,” Maav prof, apakah hal itu pernah dilakukan oleh Rasulullah ?. Dengan lugas professor itu menjawab,” umur Rasulullah sangat pendek, jika segala sesuatu harus menunggu dicontohkan oleh Rasulullah perlu berapa ratus tahun lagi Rasulullah hidup. Sistuasi umat pada zaman Nabi tidak sekompleks zaman sekarang, jika Nabi saat itu memerintahkan untuk membagikan daging qurban itu sangat masuk akal sebab persoalan yang dihadapi beliau belum serumit sekarang. kan intinya jangan keluar dari maqoshid syar’inya….

tapi begini prof…..” sergah seorang mahasiswa lagi, apakah professor menganggap qurban adalah ibadah mahdhoh…???.

Bukan….qurban menurut saya adalah ibadah sosial….jawab professor.

Nah…disinilah letak perbedaan kita prof..menurut saya qurban adalah ibadah mahdhoh, jadi harus mengikuti contoh dari Nabi dan tidak menerima ijtihad sampe akhir zaman…lagian perlu professor ketahui bahwa sedari zaman Nabi, sahabat, bani Umayyah sampe turki Ustmani belum pernah ada yang menggunakan qurban sebagai sumber keuangan negara…

Professor itupun menyarankan seandainya anda berpendapat itu mahdhoh, maka silahkan sembelih hewan qurban, namun bila dikeluarga anda ada 5 orang, maka jangan dibelikan kambing semua tapi sisakan yang dua dalam bentuk uang , insya Alloh itu jauh lebih manfaat dan lebih selamat.

Nah…kalo begitu qurban dengan hewan tetap dijalankan tapi kesadaran bersedekah juga ditingkatkan, sambung mahasiswa itu.