Kejar Gelar Doktor di Usia 100 Tahun


SEMANGAT – Bholaram Das, sang kakek usia seabad yang masih berniat bisa meraih gelar doktor. Foto: News-views.in.

Bholaram Das tepat memasuki usia seabad, Sabtu (16/10) lalu. Tapi, mantan pejuang kemerdekaan India itu tidak berhenti berjuang. Dia justru mengawali kembali perjuangannya untuk meraih gelar PhD alias doktor.

“MENUNTUT ilmu tak mengenal batas usia,” ujar Das dalam wawancara dengan harian India berbahasa Inggris, The Economic Times, yang dipublikasikan kemarin (18/10). Kini, bapak enam anak itu terdaftar sebagai mahasiswa doktoral di Gauhati University. Dia tercatat sebagai mahasiswa tertua. Tidak hanya di universitas yang terletak di kawasan Jalukbari, sebelah barat Kota Guwahati, negara bagian Assam, tersebut, tapi juga di seluruh India.

 

Sebagai pria yang sudah hidup selama seratus tahun, Das menyatakan sudah menjalani berbagai lelakon kehidupan. Juga berbagai profesi. Mulai menjadi pejuang kemerdekaan, tahanan, guru, pengacara, dan hakim distrik. “Pada tahun ke-100 ini, saya merasa sudah melakukan banyak hal untuk masyarakat, politik, pemerintah, dan agama. Kini saatnya saya memuaskan hasrat saya untuk menuntut ilmu dan menjadi doktor,” ungkap kakek 10 cucu tersebut.

Saat berusia 19 tahun, Das tergabung dalam pergerakan kemerdekaan India. Karena aktivitasnya sebagai pejuang kemerdekaan “melawan koloni Inggris” itu, dia ditangkap pada 1930. Dia lantas dijebloskan ke tahanan dan diganjar hukuman dua bulan kerja sosial. Tapi, pengalaman buruk tersebut tidak membuat Das patah semangat. Seusia menjalani hukuman, pria berkepala plontos itu menamatkan studi di jurusan hukum dan perniagaan.

Pada 1945, Das mulai aktif di panggung politik India. Dia bergabung dengan Partai Kongres Nasional India. Selanjutnya, di bawah kepemimpinan partai tersebut, India sukses meraih kemerdekaan pada 1947. Pria kelahiran Desa Bohori, Distrik Barpeta, negara bagian Assam, itu lantas lebih berkonsentrasi pada profesinya sebagai guru. Dalam kurun 26 tahun, Das menekuni tiga profesi selain guru. Yakni, pengacara, hakim pengadilan kota, dan hakim pengadilan distrik.

Das pensiun sebagai hakim distrik pada 1971. Setelah itu, dia kembali fokus pada keluarganya. Apalagi, saat itu, lima anak lelaki dan seorang anak perempuannya mulai menapaki karir masing-masing. Das lantas lebih banyak menghabiskan waktu dengan istrinya. Namun, pada 1988, dia harus menduda. Mandakini, sang istri, meninggal. Sepeninggal istrinya, Das kemudian lebih banyak mengurus cucu-cucunya.

Kini, setelah 22 tahun menjadi duda, dia bakal kembali menekuni kuliah. Rencananya, kakek yang sudah memiliki seorang buyut itu menyoroti gerakan neo-Vaishnavite sebagai fokus studinya. Konon, di desa kelahiran Das, gerakan egalitarian Hindu tersebut mendapat banyak dukungan. Berkat gerakan yang dipelopori Sankardeva itu, umat Hindu di sekitar Das tidak lagi mengotak-ngotakkan masyarakat dalam kasta.

Keputusan Das kembali ke bangku kuliah tersebut menuai banyak reaksi. Apalagi, sebelumnya, tidak pernah ada centenarian yang menjadi mahasiswa doktoral di Negeri Taj Mahal itu. “Saya sangat terharu mendengar seorang pria seusia Bholaram Das yang masih ingin menuntut ilmu. Dia merupakan teladan baik generasi tua,” ujar Gubernur J.B. Patnaik yang menjabat chancellor di Gauhati University sebagaimana dikutip IANS.

Setali tiga uang dengan Patnaik, Okhil Kumar Medhi, wakil chancellor, pun kagum pada Das. “Mahasiswa berusia 100 tahun termasuk langka di dunia,” ungkapnya.

Konon, gagasan untuk berkuliah lagi itu datang dari salah seorang cucu perempuan Das yang berprofesi sebagai dosen. Begitu usul tersebut direaksi positif oleh Das, keluarga besar pria lincah itu pun bersorak. Mereka bangga memiliki ayah dan kakek yang tidak pernah lelah belajar.

Meski harus berjalan dengan bantuan tongkat, Das terlihat masih kuat dan bugar. Dia juga masih suka menonton pertandingan cricket di layar kaca dengan antusiasme yang sama dengan generasi muda. Das juga gemar membaca segala jenis buku, walau harus dengan bantuan kacamata tebalnya. Semangatnya untuk belajar memang masih terus menyala. “Saya suka tersenyum dan harus selalu bahagia,” ujarnya. (hep/c5/dos)