Kondisi Waterway menjadi tempat Jemuran…!


Dalam penyediaan moda transportasi makro, sebenarnya Pemerintah Provinsi (pemprov) DKI Jakarta terus berupaya mencari alternatif dengan memanfaatkan potensi yang ada. Salahsatu yang pernah dikembangkan adalah waterway yang memanfaatkan jalur air Kali Ciliwung. Sejak tak lagi digunakan, kini proyek milyaran rupiah tersebut ditinggalkan begitu saja. Warga menilai, waterway sebagai proyek yang tidak serius dikembangkan pemprov sehingga dana yang sudah dikucurkan terkesan mubazir.

Pantauan beritajakarta.com, Selasa (13/5) pagi, kondisi halte waterway yang berada di kawasan Setiabudi, terlihat sangat memprihatinkan. Beberapa bagian halte perahu speed boat yang digunakan untuk calon penumpang dari arah Guntur, Setiabudi, dan Tanahabang sudah tidak terawat. Bahkan pagar haltenya kini dimanfaatkan warga untuk menjemur pakaian.

Rahmat (34), warga Setiabudi yang tinggal di kawasan pinggir Kali Ciliwung mengatakan, proyek waterway hanya berjalan beberapa bulan saja dan sudah tak terlihat aktivitasnya. “Sejak awal, saya sudah yakin bahwa proyek transportasi air ini tidak akan berjalan lama. Karena kondisi air yang ada, tidak stabil, kadang-kadang tinggi atau menjadi dangkal,” tegasnya.

Air Kali Ciliwung yang mengalir di kawasan itu, memang tidak stabil. Volume air yang tersedia tergantung dari curah hujan di Kota Bogor karena Kali Ciliwung merupakan jalur air dari Bogor menuju muara. Kondisi tersebut diperparah ketika kali dangkal, dan meninggalkan sisa-sisa sampah. Dengan keadaan kali yang kotor dengan bau menyengat, membuat calon penumpang memilih angkutan umum lain daripada menggunakan waterway.

Belum selesainya pengerjaan turap di Kali Ciliwung juga memperparah kondisi yang ada. “Seharusnya Pemda DKI dapat lebih memikirkan kondisi warganya daripada menghambur-hamburkan uang demi proyek yang tidak jelas,” protes Herlin (23) warga sekitar Halte Karet . Karena, lanjutnya, banyak warga Jakarta masih banyak yang hidup di bawah garis kemiskinan.

Dia juga proyek tersebut merupakan sebuah proyek yang terburu-buru. Hal ini terlihat belum selesainya pengerjaan turap kiri dan kanan yang ada di sepanjang Kali Ciliwung. Penurapan di sepanjang Kali Ciliwung mulai dari Manggarai hingga ke Tanahabang baru dikerjakan 10 persen saja. Kondisi waterway yang sekarang ini setidaknya dapat menjadi pelajaran pemprov untuk mengkaji setiap proyek pembangunan agar anggaran yang dikeluarkan tidak sia-sia.

Waterway yang diresmikan 6 Juni 2007 lalu memang menghadapi tantangan besar dalam pengoperasiannya. Tidak hanya tantangan, untuk operasional kapal dari Halte Halimun-Karet saja dianggarkan Rp 200 juta per tahun. Sayangnya, operasional waterway tak berjalan mulus karena tak sedikit warga Jakarta tinggal di bantaran Ciliwung, mulai jembatan depan Pasar Rumput hingga jembatan Jalan KH Mas Mansyur hingga menghambat jalur transportasi.

Menanggapi hal ini, Dinas Perhubungan DKI Jakarta mengaku akan mengoperasikan kembali waterway yang sempat berhenti sampai seluruh proyek pendukung selesai, seperti pengerjaan turap dan BKT (Banjir Kanal Timur). “Jika seluruh proyek pendukung rampung, waterway kembali dioperasionalkan,” kata Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Nurachman, saat dihubungi beritajakarta.com, Selasa (13/5) siang.

Meski begitu, Nurachman tidak terima disebut mengabaikan sarana pendukung yang sudah ada seperti halte waterway. “Tidak mungkin (halte waterway-red) dijadikan jemuran oleh warga karena kami menempatkan dua petugas untuk menjaganya sepanjang hari,” katanya. Lagian, lanjut Nurachman, di sekitar halte sedang dikerjakan penurapan sehingga banyak petugas yang menjaga fasilitas milik masyarakat tersebut.

Sumber: BeritaJakarta