Pantai Utara Jakarta yang Tak Berjiwa


SETELAH seharian mencari makan, burung Merandai (Rhizophora Sp) bertengger di pucuk pohon bakau melepas lelah. Seraya mengantar Matahari yang akan terbenam di balik perbukitan Merak, mereka mengoceh bersahut-sahutan. Besok, pagi-pagi sekali, kembali lagi mereka mencari makan….

BERUNTUNGLAH burung Merandai karena masih bisa bertahan di Pulau Rambut, salah satu dari tiga pulau di Kepulauan Seribu yang berada di bawah pengawasan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jakarta Utara. Dua lainnya adalah Pulau Bokor dan Pulau Sibira, yang bersama Pulau Rambut ditetapkan sebagai kawasan konservasi: Pulau Rambut sebagai kawasan suaka margasatwa, Pulau Bokor dan Pulau Sibira sebagai kawasan cagar alam.

Tiga pulau itu berada di perairan Teluk Jakarta. Lalu di daratan Jakarta Utara ditetapkan juga Muara Angke sebagai kawasan suaka margasatwa, dan Angke Kapok sebagai kawasan taman wisata alam.

Sebetulnya, Departemen Kehutanan telah sejak lama menetapkan kawasan Teluk Jakarta-termasuk sebagian daratannya-merupakan kawasan Taman Nasional. Artinya, sebagian daratan mulai dari Tanjung Pasir di Kabupaten Tangerang hingga Ancol di Jakarta Utara, dan tentunya semua pulau dalam gugus Kepulauan Seribu, merupakan kawasan yang dilindungi. Konsekuensinya, setiap tindakan yang mengubah peruntukan, harus mendapat persetujuan BKSDA.

Berbeda dengan Bogor atau Buitenzorg yang oleh Belanda ditentukan hanya boleh dihuni kurang dari 200.000 jiwa, untuk Jakarta atau Hindia Belanda tidak pernah dinyatakan berapa idealnya jumlah penduduk yang bisa ditampung. Akan tetapi, penduduk bertambah terus dan penyebarannya ke semua penjuru.

Tanpa kendali. Alhasil, kawasan tangkapan hujan (cathment area) pun ikut digarap menjadi kawasan permukiman atau usaha. Kota lama penuh sesak.

Saat ini, jumlah penduduk Bogor sudah di atas dua juta jiwa. Sudah jauh di atas jumlah ideal yang menjadi syarat terciptanya keseimbangan alam. Maka, bencana pun bermunculan.

Hujan sedikit saja, langsung membuat genangan. Hujan deras satu atau dua jam, banjir. Dan Jakarta ikut “menderita” oleh banjir kiriman. Ini masih lagi ditambah bencana-bencana longsor yang sudah menelan puluhan korban jiwa.

DI kawasan Pantai Utara Jakarta, pertumbuhan penduduk juga tidak terkendali. Mulai Tanjung Pasir di sebelah barat hingga kawasan Pelabuhan Tanjung Priok di timur atau hamparan yang berada dalam satu kawasan konservasi yang disebut kawasan Teluk Jakarta, secara jelas terlihat pertumbuhan yang tidak berpola.

Selepas “pintu belakang” Bandar Udara Soekarno-Hatta, hanya sedikit saja lagi lahan kosong yang tersisa. Itu pun sudah berubah peruntukannya menjadi pertambakan intensif udang, dari sebelumnya sebagai tempat retensi (parkir) air hujan atau air pasang.

Sisanya, sepanjang sekitar 15 kilometer mengikuti garis pantai antara kawasan Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta dan Tanjung Pasir, dipadati bangunan-bangunan kayu dan beton yang disebut rumah tinggal atau rumah usaha. Ini, masih lagi diperparah oleh pengkaplingan untuk perumahan. Celakanya, masih pula menggunakan kata “Indah” di belakang nama perumahan itu.

Rumah-rumah beton itu boleh jadi memang indah, tetapi kehadirannya telah melanggar prinsip keseimbangan alam. Keseimbangan terganggu, maka bencana alamlah taruhannya.

Bergeser ke arah timur, menembus kawasan Teluk Naga hingga Muara Angke di bibir pantai, tidak jauh berbeda. Malah bisa dikatakan lebih parah, karena di sini berdiri beragam jenis pabrik, yang sepanjang pemantauan Kompas pada minggu pertama Februari 2003, tidak mem- perhatikan masalah limbahnya.

Beragam jenis bangunan -bentuk dan kegunaannya- berhimpitan, memadati kiri-kanan jalan aspal yang tampak tidak terpelihara. Sampah berserakan di halaman rumah, di jalan serta sungai-sungai yang telah berubah warna menjadi hitam pekat.

Perubahan peruntukan di kawasan ini, terutama oleh kehadiran kawasan permukiman, semisal dua yang sangat besar, yakni Pantai Indah Kapuk (PIK) dan Pantai Mutiara. Kawasan rawa menjadi permukiman. Antara Tanjung Pasir dan kawasan dua perumahan itu, hanya tersisa sedikit lahan kosong yang masih tampak ditumbuhi tanaman pantai.

Banjir tahun 2002 yang melanda kawasan Pluit dan sekitarnya, menurut warga, adalah dampak kehadiran PIK dan Pantai Mutiara. Intinya, pengelola kedua perumahan itu dituding membangun saluran-saluran drainase yang hanya untuk mengamankan kawasannya dari genangan. Padahal, tindakan itu justru menjadi malapetaka bagi kawasan lain.

LEBIH ke timur lagi, menelusuri Kampung Dadap menuju Kamal Muara di tepi pantai, tampak persoalannya tidak berbeda. Masih soal kepadatan perumahan, tidak adanya pengolahan limbah dan sampah rumah tangga, dan Kali Kamal yang tampak begitu hitam oleh limbah buangan dari mesin-mesin diesel perahu nelayan. Belum lagi sampah “kiriman” dari Jakarta.

“Semua dibuang ke kali,” kata Franky (29), warga Kamal Muara. Kondisi hitam pekat itu sudah berlangsung lama. “Sejak saya masih kanak-kanak, airnya sudah hitam, tetapi belum sepekat sekarang,” kata Franky.

Berubah warna dari kuning menjadi hitam, karena dipenuhi segala jenis limbah dan sampah. Tidak hanya oleh warga setempat, tetapi warga Jakarta yang membuang sampah dan limbah ke sungai. Dan ihwal semacam ini tidak hanya terjadi di Kali Kamal, tetapi juga pada sungai-sungai besar lainnya yang melewati Jakarta sebelum bermuara di Teluk Jakarta.

Sumpek, bau, dan tidak berpola. Itulah ciri khusus kawasan Pantai Utara Jakarta. Sedikit agak berbeda, hanya di kawasan Ancol. Lebih bersih, terpola, dan sepertinya berusaha menjaga keseimbangan alam. Tersedia cukup ruang-ruang terbuka yang ditumbuhi pohon kelapa dan tanaman pantai lainnya.

Hanya saja, masalah pencemaran tampak tidak diperhatikan juga. Ini tampak menonjol di kawasan Marina, tempat berlabuhnya kapal-kapal pesiar mewah milik orang-orang kaya. Sungai Ciliwung, meski tidak separah Kali Kamal, juga telah dipadati sampah plastik dan jenis sampah rumah tangga lainnya. Airnya juga belum hitam, hanya kecoklat-coklatan, tetapi tinggal tunggu waktu saja, maka Ciliwung pun menghitam.

Bila itu sudah terjadi, maka kasus Kali Ciliwung bisa menjadi contoh tentang ketidakpedulian orang terhadap pencemaran. Cuma, dalam konteks Kali Ciliwung, terutama ihwal muara sungai, tudingan lebih dialamatkan kepada pemerintah karena tidak mengawasi secara ketat pengelola Marina.

Marina adalah sumber uang. Dari pungutan biaya sandar kapal-kapal pesiar saja, mestinya pengelola bisa menyisihkan sebagian untuk membersihkan sungai.

Biaya tambat ditetapkan oleh pengelola Marina sebesar Rp 150.000/meter. Tergantung panjang lunas kapal pesiar. Setiap bulan sedikitnya 240 kapal pesiar-besar kecil-sandar di situ. Tidak ada yang lebih kecil dari satu meter panjang lunas. Sedikitnya lima meter.

Artinya, kalau dirata-ratakan lima meter saja panjang lunasnya, maka setiap bulan pengelola menerima uang sandar 5 x 240 x Rp 150.000. Atau, Rp 180 juta. Ini perhitungan minim, karena kapal pesiar ukuran besar juga banyak. “Kalau disisihkan sedikit untuk pemeliharaan sungai, tentu tidak sekotor ini,” kata Edi (45), seorang montir untuk kapal-kapal itu.

Dan menurut penjelasan Edi, pengelola Marina nyaris tidak mengeluarkan biaya apa pun untuk pemeliharaan fasilitas sandar itu. Kecuali awalnya, untuk pembangunan sarana dermaga kayu dan jalan setapak di tepi sungai. “Selebihnya, pengelola hanya menghitung uang masuk,” kata Edi.

PERSOALAN Pantai Utara Jakarta yang masuk dalam kawasan Taman Nasional Kepulauan Seribu bukan hanya Marina. Pencemaran lebih parah sudah terjadi di semua sungai dan bibir pantai. Bahkan, perairan Teluk Jakarta juga sudah tercemar, setelah limbah dan sampah tidak lagi tertampung oleh sungai lalu bergeser ke perairan.

“Kami memang terlambat mengantisipasi daratan di utara itu,” kata Muhayat, Kepala Hubungan Masyarakat Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Celakanya, pengakuan itu tidak bisa mengubah apa pun. Nasi telah menjadi bubur.

Terutama dalam konteks kebijakan Pemprov DKI dan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Seribu yang menetapkan Teluk Jakarta berikut semua pulaunya menjadi kawasan wisata bahari, budaya, dan sejarah. Kesemrawutan yang dicirikan kawasan itu tidak menunjang. Garis pantai terpotong-potong oleh beragam kepentingan. Tidak ada napas, apalagi jiwa dan semangat pariwisata.

Pulau Onrust, pulau terdekat dengan pantai Jakarta, memiliki sejumlah peninggalan sejarah saat Belanda masih menguasai negeri ini. Pulau Rambut, hingga saat ini dipercaya -hanya bisa dipercaya karena awam dilarang masuk-masih memiliki beragam jenis burung, reptil, dan tanaman hutan karena pulau itu memang ditetapkan menjadi taman margasatwa.

Tetangganya, Pulau Untung Jawa, awalnya merupakan lokasi berkemah bagi para ahli yang mau melakukan penelitian di Pulau Rambut. Dalam perkembangannya, BKSDA kemudian membangun rumah- rumah kayu untuk penginapan bagi para peneliti. Awalnya hanya sekitar 10 keluarga nelayan tinggal di pulau itu.

Akan tetapi jumlahnya terus bertambah setelah Pulau Ubi -dekat Onrust-tenggelam dan sirna dari muka bumi pada tahun 1967. Saat ini Pulau Untung Jawa dihuni sedikitnya 400 KK. “Sekitar 85 persen adalah nelayan,” kata Belgia (25), pegawai BKSDA yang sudah empat tahun dipercaya menjaga rumah-rumah inap tersebut. Saat ini, bersamaan dengan fungsinya sebagai kawasan wisata, rumah-rumah itu sudah disewakan kepada umum.

“Sampah dan limbah Jakarta adalah kendala utama mengembangkan pariwisata di pulau ini,” jelas Belgia. Bila pasang, semua jenis sampah berlapis-lapis di bibir pantai pulau itu. Ketika surut, sebagian tertinggal dan warga bersusah payah membersihkannya. Sisanya dikirim kembali ke Jakarta, atau tenggelam di perairan Teluk Jakarta.

Bertahun-tahun sudah berlangsung. Bukan hanya daratan pulau, perairan Teluk Jakarta pun sudah jenuh dengan sampah. Akibat lanjutannya, ikan-ikan tidak lagi betah dan bergeser ke arah barat daya di perairan Selat Sunda. Itu artinya, nelayan Pulau Untung Jawa tidak bisa lagi pergi malam pulang pagi seperti sebelum perairan Teluk Jakarta tercemar.

Ngebabang, itulah sebutan nelayan Pulau Untung Jawa sekarang ini. Artinya, melaut mencari ikan, sekaligus menjual hasilnya di kawasan lain, paling cepat setelah 15 hari baru pulang membawa uang untuk keluarga.

Tidak ada lagi kebiasaan sore-sore bercengkerama dengan keluarga atau tetangga seraya menanti Matahari tenggelam. Seperti burung merandai, setelah seharian mencari makan, seakan melepas lelah lalu bertengger di pucuk pepohonan Pulau Rambut sambil bersahut-sahutan.

Untung saja, limbah dan sampah yang menyerbu pantai Pulau Rambut belum membuat burung-burung itu tidak betah. Justru, manusia yang tugasnya menjaga keseimbangan alam, hidupnya telah dirobek-robek oleh ulah sesama manusia…. (Bob Hutabarat)